Monday, September 8, 2014
Malaikat Kecil ku Terenggut Kanker Part 3
Setelah Anakku Hafidz berumur kira - kira 1,5 lahirlah anak laki - laki ke dua saya atau adik Hafidz kemudian saya beri nama Al Ilman Syahdan, meskipun sebelumnya ketika umur kehamilan 8 bulan istriku merasa ada tanda - tanda kelahiran, kemudian saya membawa istri saya ke RS Harapan Bunda Batam, ketika di periksa oleh dokter di RS tersebut dokter berkata bahwa anak ke dua ini tidak mungkin dapat melahirkan dengan normal dan harus di cesar kembali, karena menurut penelitian di dunia 90% , jika jarak kelahiran anak di bawah 2 tahun dengan anak sebelumnya yang mana anak sebelumnya adalah cesar maka jika di paksakan maka akan terjadi resiko meninggal dunia pada sang bayi, itu menurut perkataan dokter di RS tersebut. Tapi saya lebih percaya dengan kuasa Allah , jika Allah menghendaki proses kelahiranya normal maka terjadilah, oleh sebab itu saya hanya pasrah kepada Allah dan berdoa supaya anak ke dua saya bisa lahir dengan normal amin.... Tapi setelah di tunggu selama 2 hari ternyata istriku belum ada tanda - tanda melahirkan dan kondisinya juga sudah membaik, dan akhirnya saya membawa pulang istri saya. pada suatu hari saya berbincang - bincang dengan sesama rekan guru di sekolah yang mana dia menyarakan untuk coba di bawa ke ahli urut kandungan supaya di betulkan posisi bayi, yang mana teman saya bilang tukang urut kandungan tersebut orangnya udah pengalaman dan ahli. kemudian saya membawa istri saya pergi ke tukan urut kandungan tersebut, di sana istri saya cuma di pegang-pegan perutnya dengan perlahan dan istri saya bilang orangnya memang udah ahli karena di urutnya tidak merasa sakit dan perutnya terasa lebih enakan, dan tukan urut bilang posisi bayi udah bagus dan bisa lahir normal katanya, saya berucap syukur alhadulilah mudah-mudah bisa lahir normal amin...setelah menungu beberapa hari akhirya istriku merasa seperti mau melahirkan dia bolak balik kencing ke kamar mandi, akhirnya saya membawa sitriku ke Bidan Pulina Di Batam, dan langsung di tangani oleh bidan tersebut, dan ternyata sudah terjadi pembukaan 4, kemudian setelah menunggu setelah 5 jam akhirnya alhadulilllah lahirlah anak ke dua saya dengan normal, alhadulillah kuasa Allah bisa lahir dengan normal meskipun dokter RS Harapan Bunda mustahil untuk lahir dengan normal karena jarak minimal harus 2 tahun dengan anak sesudahnya.
Setelah Anak ke dua saya Al Ilman berumur 3 bulan, saya melihat mata kanan anak saya pertama yaitu Hafidz terlihat bola mata hitamnya mulai membesar, saya pun bertambah kawatir, dan saya memutuskan untuk sementara anak - anak dan istri saya tinggal di Bogor untuk dan saya setiap sebulan sekali pulang ke Bogor untuk memeriksakan keadaan mata anak saya ke RS, pertama - tama saya memeriksakan mata anak saya ke RS Karya Bakti di Bogor, setelah dokter di RS tersebut malakukan pemeriksaan , dokter RS tersebut berkata bahwa Hafidz memang positip terkena kanker mata atau Retina Blastom, saya pun tak kuasa menahan kesedihan dan bercucuran air mata atas apa yang menimpa terhadap anak saya dan saya juga menunjukan surat pengantar dari dokter Haryono di Batam, dan dokter RS Karya Bakti pun menyuruh untuk segera membawa ke RS Mata Aini di Jakarta.
Ke esokan harinya saya berdua bersama Anak saya Hafidz pergi ke RS Mata Aini, saya berangkat dari rumah pagi hari menuju Stasiun Kereta di Bogor, dari sana saya naik Comutter Line jurusan Bogor - Tanah Abang, saya harus berdesak - desakan bersama penumpang lain yang kebanyakan hendak berangkat ke kantor untuk berebut tempat duduk, saya pun tidak kebagian tempat duduk , saya pun harus berdiri bergelantungan satu tangan memeggang pegangan dan tangan satunya mengendong anak, sungguh berat perjuangan naik CL atau comutter line, tapi saya tetap semangat demi pengobatan anak tercinta saya Hafidz sayang, tapi ketika hendak memasuki stasiun Cilebut ada penumpang laki - laki yang kasihan melihat saya harus bergelantungan dan mengendong anak, dia pun memberikan tempat duduknya kepada saya, "terima kasih banyak mas" saya ucapkan kepada orang tersebut.
Setelah kira - kira satu jam sampailah kereta di Stasiun Karet, saya pun turun bersama anak saya di stasiun tersebut, kemudian saya menuju RS Mata Aini naik ojek, setelah sampai di RS Aini saya lansung mendaftar ke bagian anak, dan setelah tiba giliran anak saya untuk di periksa oleh seorang dokter perempuan saya lupa namanya, dokter tersebut mengatakan ini segera harus di lakukan kemo terapi dan kemudian di oprasi mata kananya, kemudian saya pun berkata kepada dokter " apa kira - kira tidak ada cara lain supaya matanya anak saya tetap ada tidak perlu di operasi, karena saya tetap tidak bisa membayangkan jika anak saya harus hidup dengan satu mata" Dokter pun mengatakan kepada saya " Bapak jangan memikirkan dengan keadaan mata anak bapak, yang bapak pikirkan adalah nyawa anak bapak karena ini sudah terlambat udah setadium 3" saya pun kembali berlinang air mata sambil memandangin anak saya. Dan dokter menyarankan untuk membawa ke RS Cipto Mangunkusumo di jakarta karena di RS Mata Aini peralatanya tidak bisa menangani kondisi mata anak saya saat itu, saya pun langsung bergegas ke RS Cipto dengan naik taksi.......
Subscribe to:
Post Comments (Atom)









0 comments:
Post a Comment